GAGAL GINJAL

Definisi
Gagal ginjal yaitu ginjal kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan asupan makanan normal. Gagal ginjal biasanya dibagi menjadi dua kategori yaitu kronik dan akut. Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat pada setiap nefron (biasanya berlangsung beberapa tahun tidak reversible), gagal ginjal akut seringkai berkaitan dengan penyakit kritis, berkembang cepat dalam hitungan beberapa hari hingga minggu, dan biasanya reversible bila pasien dapat bertahan dengan kritisnya (price & wilson, 2006)

Etiologi
Klasifikasi penyebab gagal ginjal kronik

Ket: penyebab tersering                        sumber: patofisiologi vol 2 hal: 993

Manifestasi klinis
1.    Gagal ginjal kronik
Menurut perjalanannya klinnis:

a.    Menurunnya cadangan ginjal pasien asimtomatik, namun GFR dapat menurun hingga 25% dari normal.

b.    Infusiensi ginjal, selama pasien ini keadaan ini pasien mengalami poliuria dan nokturia, GFR 10% hingga 25% dari normal, kadar creatinin serum dan BUN sedikit meningkat diatas normal.

c.    Penyakit ginjal stadium akhir (ESRD) atau sindrom uremik (lemah, letargi, anoreksi, kelebihan volume cairan (volume overload), neuropati perifer, pruritus, uremic frost, kurang dari 5-10 ml/menit, kadar serum kreatinin fan BUN meningkat tajam, dan terjadi perubahan biokimia dan gejala yang komplek
Gejala komplikasinya antara lain, hipertensi, anemia, osteodistrofi renal, payah jantung, asidosis metabolik, gangguan keseimbangan elektrolit (sodium, kalium, khorida).

2.    Gagal ginjal akut
Perjalanan klinis gagal ginjal akut biasanya dibagi menjadi 3 stadium: oliguria, dieresis, dan pemulihan. Pembagian penyakit ini ini merupakan sangat dipakai pada penjelasan dibaawah ini, tetapi harus diingat bahwa gagal ginjal akut azotemia dapat saja terjadi saaat keluarnya urine dari 400/48 jam

a.    Stadium oliguria
Oliguri timbul dalam waktu 24-48 jam sesudah trauma dan disretai azotemia

b.    Stadium deuresis
-    Stadium GGA dimulai bila keluarnya urine lebih 400ml/hari
-    Berlangsung 2-3 minggu
-    Pengeluaran urin harian jarang melebihi 4 liter, asalkan pasien tidak mengalami hidrasi yang berlebihan
-    Tingginya kadar urea darah
-    Kemungkinan menderita kekurangan kalium, natrium, dan air
-    Selama stadium dini dieresis kadar BUN mungkin meningkatkan terus

c.    Stadium penyembuhan
Stadium penyembuhan GGA berlangsung sampai satu tahun, dan selama itu anemia dan kemampuan pemekatan ginjal sedikit dengan sedikit membaik

Penatalaksanaan
Pengkajian klinik menentukan jenis penyakit ginjal, adanya penyakit penyerta, derajat penurunan derajat penurunan fungsi ginjal, komplikasi akibat penurunan fungsi ginjal, factor sesiko untuk penurunan fungsi ginjal, dan factor resiko untuk penyakit kadiovaskular. Pengelolahan nya dapat diliputi:
1.    Terapi penyakit ginjal
2.    Pengobatan penyakit penyertaan
3.    Penghambatan penurunan fungsi ginjal
4.    Pencegahan dan pengobatan penyakkit kardivaskular
5.    Pencegahan dan pengobatan penyakit gagal ginjal ini komplikasi akibat penurunan fungsi ginjal
6.    Terapi pengganti ginjal dengan dialisis atau transplantasi jika timbul gejala dan tanda uremia

Masalah yang lazim muncul
1.    Gangguan pertukaran gas b.d kongesti paru, penurunan curah jantung penurunan perifer yang mengakibatkan asidosis laktat

2.    Nyeri akut

3.    Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluaran urine, diet berrlebihan dan retensi cairan serta natrium

4.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual dan muntah, pembatasan diet, dan perubahan membrane mukosa mulut

5.    Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d perlemahan aliran darah keseluruh tubuh

6.    Intoleransi aktivitas b.d keletihan, anemia, retensi, produk sampah

7.    Kerusakan integritas kulit b.d pruritas, gangguan status metabolic sekunder

Discharge planning
1.    Diet tinggi kalori dan renfah protein
2.    Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam
3.    Kontrol hipertensi
4.    Kontrol ketidakseimbangan elektrolit
5.    Deteksi dini dan terapi infeksi
6.    Dialisis (cuci darah)
7.    Obat-obatan: antihipertensi, suplemen besi, agen pengikat fostat, suplemen kalium, furosemid (membantu berkemih)
8.    Transplantasi ginjal

FLU BURUNG





Definisi
Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang menyerang burung atau unggas dan manusia. Salah satunya tipe yang diwaspadai adalah yang disebabkan oleh influenza dengan kode genetik H5N1 (H: Haemagglutinin, N: Neuramidase). (WHO= Avian Influenza, 2004)
Penderita atau pasiien konfirm H5N1 dapat juga dibagi beberapa menjadi 4 kategori sesuai beratnya penyakit (MOPH Thailand, 2005)

1.    Derajat I : Penderita tanpa Pneumonia
2.    Derajat II : Penderita dengan pneumonia derajat sedang dan tanpa gagal nafas
3.    Derajat III : Penderita dengan Pneumonia berat dan dengan gagal nafas
4.    Derajat IV : Penderita dengan Pneumonia berat dan Acute Respiratory Distress
Syndrome (ARDS) atau dengan multple organ failure (MOF)

Etiologi
Merupakan virus influenza tipe A, termasuk famili orthomyxoviridae dengan penyebaran melalui udara (droplet infection) dan dapat berubah rubah bentuk. Virus ini terdiri dari hemaglutinin (H) Neuramidase (N). Kedua huruf digunakan sebagai indetifikasi kode subtipe flu burung yang banyak jenisnya. Pada manusia hanya terdapat jenis H1N1, H3N3, H5N1, H9N2, H7N7, sedangkan pada binatang H1H5 dan N1N9. Strain yang sangat viruelen atau gagasan dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A H5N1 dan virus tersebut dapat bertahan di air sampai 4hari pada suhu 22 derajat C dan lebih dari 30 hari 0 derajat C. Virus ini akan mati pada pemanasan 60 derajat C selama 30menit atau 56 derajat C selama 3jam dan dengan detergen, desinfektan missal formalin cairan yang mengandung iodine. (Sudoyo aru)

Manifestasi Klinis
1.    Masa inkubasi 3 hari dengan rentang 2-4 hari.
2.    Batuk, filek, demam 38 derajat C
3.    Sefalgia, nyeri tenggorokan, mialgia dan malaise.
4.    Diare, konjungtivitis.
5.    Flu ringan hingga berat, pneumonia, dan banyak yang berakit dengan ARDS.
6.    Kelainan laboratorium, leucopenia, limfopenia, dan trombositopenia.
7.    Gangguan ginjal (sebagian besar) berupa peningkatan ureum dan kreatinin.
8.    Gejala pada unggas:
-    Jengger berwarna biru
-    Borok dikaki
-    Kematian mendadak
9.    Tanda dan gejala lain pada anak-anak:
-    Nafas terengah-engah
-    Kulit menjadi kehitaman atau keabuan
-    Malas minum
-    Munntah-muntah
-    Tidak bisa bangun dan berinteraksi dengan baik
-    Tidak mau disentuh
-    Terkadang gejala hilang tetapi demam dan batuk masih ada



Pemeriksaan penunjang
1.    Pemeriksaan kimia darah
Albumin, Glubulin, SGOT, SGPT, Ureum, Kreatinin, Krinase, Analisis gas darah. Umunya dijempai penurunan albumin, peningkatan SGOT dan SGPT. Peningkatan ureum dan kreatinin, peningkatan kreatin kinase, Analisis gas ddarah dapat normal atau abnormal.
2.    Pemeriksaan Hematologi
Hemaglobin, leukosit, trombosit, hitung jenis leukossit, limfosit total umumnya ditemukan leukopeni, limfositopeni dan trombositopeni.
3.    Uji RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction) untuk H5.
4.    Biakan dan identifikasi virus influenza A subtipe H5N1
5.    Uji serologi
6.    Uji penapisan
-    Rapid test untuk mendeteksi influenza A
-    ELISA untuk mendeteksi H5N1
7.    Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan foto thorak PA dan Lateral harus dilakukan pada setiap tersangka flu burung. Gambaran infiltrat diparu menunjukan bahwa kasus ini adalah pneumonia. Pemeriksaan yang merupakan hal lain juga sangat yang dianjurkan adalah pengobatan atau pemeriksaan CT Scan untuk kasus dengan gejala klinik flu burung tetapi hasil foto toraks normal sebagai langkah diagnostik dini.
8.    Pemeriksaan Post Mortem
Pada pasien yang meninggal sebelum diagnosis flu burung tertegakkan, dianjurkan untuk mengambil sediaan postmortem dengan jalan biopsi pada mayat (necropsi), specimen dikirim untuk pemeriksaan patologi anatomi dan PCR

Penatalaksanaan
1.    Pelayanan difasilitas kesehatan non rujukan flu burung
-    Pasien atau penderita suspek flu burung ini biasanya juga bisa langsung diberikan Oseltamivir 2x75 mg (jika anak sesuai dengan berat badan) lalu dirujuk ke rumah sakit rujukan flu burung
-    Untuk puskesmas yang terpencil pasien diberikan pengobatan oseltamivir sesuai skoring dibawah ini, sementara pada puskesmas yang tidak terpencil pasien langsung dirujuk ke RS rujukan. Kriteria pemberian obat yang mengadung oseltamivir dengan sistem yang sangat manjur yaitu skoring, dimodifikasikan dari hasil pertemuan workshop “case management” dan pengembangan laboratorium regional avian influenza, Bandung 20-23 April 2006


Skor :
6-7         = Evaluasiiii ini sangat ketat, apabila penyakit ini ini sangat meningkat sehingga mencapai (>7) sehingga diberikan oseltamivir
>7         = Diberikan oseltamivir
Batasan frekuensi Nafas :
<2bl        => 60x/menit
2bl-<12bl        => 50x/menit
>1th-<5th        => 40x/menit
5th-12th        => 30x/menit
>13            => 20x/menit
Pada fasilitas yang tidak ada pemeriksaan leukosit maka pasien dianggap sebagai leukopeni (skor=2)
-    Pasien ditangani sesuai dengan kewaspadaan standar
2.    Pelayanan dirumah sakit rujukan
a.    Pasien suspek H5N1, Probabel, dan konfirmasi dirawat diruang isolasi.
b.    Petugas triase memakai APD, kemudian segera mengirim pasien keruangan pemeriksaan.
c.    Petugas yang masuk keruangan pemeriksaan tetap menggunakan APD dan melakukan kewaspadaan standar
d.    Melakukan anamesis, pemeriksaan fisik.
e.    Pemeriksaan laboratorium sesuai dengan III.B.2.a, dan foto toraks. Pemeriksaan PCR dilakukan pada hari pertama, kedua, dan ketiga perawatan.
f.    Penatalaksanaan diruang rawat inap:
-    Perhatikan: keadaan umum, kesadaran, tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu), bila fasilitas tersedia pantau saturasi oksigen dengan alat pulse axymetry.
-    Terapi suportif: terapi oksigen, terapi cairan, dll
Profilaksi menggunakan oseltamivir
Perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya penularan dari manusia ke manusia, namun penggunaan profilaksis oseltamivir sebelum dianjurkan tidak dianjurkan.
Indikasi keluar dari ICU
Setelah 24 jam setelah pasien disapih dan diekstubasi taanpa adanya kelainan baru maka pasien dapat dipindahkan keruangan.



Masalah yang lazim muncul
1.    Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d obstruksi jalan nafas ditandai dengan dispnea, saat di askultasi terdengar ronci, klien mengeluh batuk berdahak
2.    Hipertemia b.d proses penyakit ditandai dengan peningkatan suhu tubuh 37,50C, akral teraba panas, takipnea
3.    Ketidakefektifan pola nafas b.d hiperventilasi ditandai dengan takipenea, klien tampak menggunakan obat bantu pernafasan, RR>20x/menit
4.    Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran kapiler alveolar ditandai dengan dispnea, pemeriksaan AGD abnormal, saturasi oksigen <95%
5.    Nyeri akut b.d agen cedera biologis ditandai dengan klien mengeluh nyeri otot (myalgia), takipnea
6.    Kekurangan volume cairan
7.    Hambatan mobilitas fisik b.d stadium penyakit ditandai dengan klien tampak lelah, klien tampak tidak bertenaga

Discarge planning
Pencegahan transmisi dilakukan dengan isolasi yang baik, selalu cuci tangan, memakai sarung tangan, penggunaan bahan dekontaminan atau desinfektifan. Perlu dilakukan pula dengan kewaspadaan standar berdasarkan transmisi sesuai cara penularan (kontak, droplet dan airbone). Penanganan limbah juga bagian yang sangat penting untuk pencegahan penularan. Adapun pencegahannya baik pada hewan maupun pada manusia:
1.    Pada unggas
-    Pemusnahan unggas atau burung yang terinfeksi flu burung
-    Vaksinasi pada unggas yang sehat
2.    Pada manusia:
-    Kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan dan pedagang)
-    Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja
-    Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung
-    Menggunakan alat pelindung diri (contoh: masker dan pakaian kerja)
-    Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja
-    Membersihkan kotoran unggas tiap hari
3.    Masyarakat umum
-    Menjaga daya tahan tubuh ini juga merupakan salah satu dengan memakan makanan bergizi dan istirahat cukup
-    Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu:
Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya). Memasak daging ayam sampai dengan suhu kurang lebih 800c selama 4,5 menit

DIFTERI



DEFINISI

DIFTERI yaitu adalah suatu penyakit yang sangat mengakibatkan infeksi akut yang sangat menular yang terjadi secara localpada mukosa saluran pernapasanakut kulit,yang disebabkan oleh basil gram positif corynebacterium diphtheria, ditandai oleh terbentuknya eksudat yang berbentuk membram pada tempat infeksi, dan diikuti oleh gejala gejala umum yang ditimbulkan oleh eksotoskin yang diproduksi oleh basil ini. (sudoyo aru, dkk 2009)

Orang-orang yang beresiko terkena penyakit ini:
1.    Tidak mendapat imunisasi atau imunisasinya tidak lengkap

2.    Immunocopromised, seperti: sosial ekonomi yang rendah, pemakai obat imunosupresif, penderita HIV, diabetes melitus, pecandu alcohol dan narkotika

3.    Tinggal pada tempat-tempat padat, seperti : rumah tahanan, tempat penampungan

4.    Sedang melakukan perjalanan (travel) kedaerah-daerah yang sebelumnya merupakan daerah edemik difteri

Etiologi
Disebabkan oleh corynebacterium diphtheria, bakteri gram positif yang bersifat polimorf, tidak bergerak dan tidak membentuk spora, aerobic dan dapat memproduksi eksotoksin (sudoyo aru, dkk 2009)

Klasifikasi penyakit difteri secat klinis adalah menurut lokasinya:
1.    Difteri nasal anterior

2.    Difteri nasal posterior

3.    Difteri fausial (farinks)

4.    Difteri laryngeal

5.    Difteri konjungtiva

6.    Difteri kulit

7.    Difteri vulva/vagina


Menurut tingkat keparahannya: (sudoyo aru, dkk 2009)
1.    Infeksi ringan, apabila pseudomembrane hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya filek dan nyeri waktu menelan

2.    Infeksi sedang, apabila difentri itu pseudomembrane telah menyerang sampai faring dan laring sehingga keadaan pasien terlihat lesu dan agak sesak

3.    Infeksi berat, apabila terjadi sumbatan nafas yang berat dan adanya gejala-gejala yang ditimbulkan oleh eksotoksin seperti miokarditis, paralisis dan nefritis

Manifestasi klinis
Difteri terjadi tergantung kepada:
1.    Lokasi infeksi
2.    Imunitas penderitanya
3.    Ada/tidaknya toksin difteri yang beredar dalam sirkulasi darah
Secara hati-hati periksa disekitar hidung dengan teliti dan tenggorokan pada anak, terlihat warna keabuan pada selaputnya, yang sulit dilepaskan. Kehati-hatian diperlukan untuk pemeriksaan tenggorokan karena dapat mencetuskan obstuksi total saluran napas. Pada anak difteri faring terlihat jelas bengkak pada leher (bull neck). (BS pelayanan kesehatan anak di RS)

Secara klasik bermanifestasi pada anak berusia 1-9 tahun, tetapi dapat terjadi pada orang dewasa yang tidak diimunisasi. Terjadinya penyakit ini tergantung pada lokasi infeksi, imunitas penderita, ada/tidaknya toksin difteri yang beredar dalam sirkulasi darah. Masa inkubasi umumnya 2-5 hari. (range 1-10), pada difeteri kutan addalah 7 keluhan-keluhan: (sudoyo aru, dkk 2009)



1.    Demam yang tidak tinggi sekitar 38 derajat C
2.    Kerongkongan sakit dan suara parau
3.    Perasaan tidak enak, mual, muntah dan lesu
4.    Sakit kepala
5.    Rinorea, berlendir kadang-kadang bercampur darah

Pemeriksaan penunjang
1.    Bakteriologik. Preparat apusan kuman difteri dari bahan asupan mukossa hidung dan tenggorokan (nasofaringeal swab)

2.    Darah rutin: Hb, leukosit, hitung jenis, eritrosit, albumin

3.    Urin lengkap: askep, protein dan sendimen

4.    Enzim CKP, segera saat masuk RS

5.    Ureum dan kreatinin (bila dicurigai ada komplikasi ginjal)

6.    EKG secara berkala ini memang slalu untuk untuk mendeteksi toksin basil menyerang sel otot jantung dilakukan sejak 1hari perawatan lalu minimal 1x seminggu, kecuali bila ada indikasi biasa dilakukan 2-3x seminggu

7.    Pemeriksaan radiografi toraks untuk menyecek adanya hiperinflasi

8.    Tes schick

Penatalaksanaan
Tindakan umum
1.    Perawatan tirah baring selama 1 minggu ruang lokasi
2.    Memperhatikan intake cairan dan makanan.
3.    Pastikan kemudahan defekasi
4.    Bila anak merasa gelisah pada hidupnya beri sedative berupa diazepam/luminal
5.    Pemberian cukup antitusif untuk mengurangi batuk (difteri laring)
6.    Aspirasi sekret secara periodik terutama untuk difteri laring
7.    Bila ada tanda-tanda obstruksi jalan nafas segera berikan oksigen atau trakeostomi

Tindakan spesifik
1.    Serum anti difteri (SAD)
Dosis diberikan berdasarkan atas luasnya membran dan beratnya penyakit.
2.    Antibiotik
Penicilin prokain diberikan 100.000 IU/kgBB selama 10hari, maksimal 3 gram/hari.
3.    Kortikosteroid
Diindikasikan pada defteri berat dan sangat berat (membran luas, komplikasi bull neck).

Masalah yang lazim muncul
1.    Ketidakefektifan pola nafas b.d edema laring
2.    Kelebihan volume cairan
3.    Penurunan curah jantung b.d edema kongesti, perubahan volume sekuncup, perubahan kontraktilitas jantung
4.    Resiko infeksi b.d proses penyakit
5.    Gangguan menelan
6.    Hambatan komunikasi verbal
7.    Ansiestas b.d perubahan status kesehatan anaknya

Discharge planning
1.    Vaksin dpt

2.    Biasakan hidup dan selalu menjaga kebersihan lingkungkungan

3.    Tingkatkan imunitas tubuh dengan makan makanan yang mengandung nutrisi seimbang ,berolah raga dan cukup istirahat seta mengurangi strees

4.    Mengetahui gejala dan bahaya yang disebabkan difteri




DIARE



Definisi
Diare akut adalah buang air besar (defekasi) dengna tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari pada biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. Definisi lain yaitu memakai frekuensi, yaitu adalah buang air besar encer lebih dari 3 kali perhari. Buang air besar tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah.
Penularan diare karena infeksi melalui transmisi fekal oral langsung dari penderita diare atau melalui makan dan minum yang terkontakminasi bakteri pathogen yang berasal dari tinja manusia/hewan atau bahann muntahan penderita dan juga dapat melalui udara atau melalui aktifitas seksual kontak oral-genital atau oral-anal (sudoyo aru,dkk 2009)
Diaare dapat diklasifikasikan berdasarkan : (sudoyo aru,dkk 2009)
a.    Lama waktu diare:
-    Akut    : berlangsung kurang dari 2 minggu
-    Kronik    : berlangsung lebih dari 2 minggu
b.    Mekanisme patofisiologis : osmotik atau sekretorik dll
c.    Berat ringan diare : kecil atau besar
d.    Penyebab infeksi atau tidak : infeksi atau non infeksi
e.    Penyebab organik atau tidak : organik atau fungsional
Kebutuhan rehidrasi oral (CRO) menurut usia untuk 4jam pertama pada anak (djuanda adhi)

Etiologi
1.    Diare akut
Virus : rotavirus, adenovirus, Norwalk virus.
Parasit. Protozoa: Giardia lambdia, entamoeba hystolitica, dll
2.    Diare kronik
Umumnya diare kronik dapat dikelompokan dalam 6 kategori pathogenesis terjadinya
-    Diare osmotic
-    Diare sekretorik
-    Diare karena gangguan motilitas
-    Diare inflamatorik
-    Malabsorbsi
-    Infeksi kronik

Manifestasi klinis
1.    Diare akut
-    Akan hilang pada waktu 72 jam dari onset
-    Onset yang tak terduga dari buang air besar encer, gas-gas dalam perut, rasa tidak enak, nyeri perut
-    Nyeri pada kuaddran kanan bawah disertai keram dan bunyi pada perut
-    Demam
2.    Diare kronik
-    Serangan lebih sering selama 2-3 periode yang lebih panjang
-    Penurunan BB dan nafsu makan
-    Demam indikasi terjadi infeksi
-    Dehidrasi tanda-tandanya hipotensi takikardia, denyut lemah (yuliana, 2009)

Bentuk klinis diare :

Pemeriksaan penunjang
1.    Pemeriksaan tinja
-    Makroskopis dan mikrokopis
-    Ph dan kadar gula dan tinja
-    Biakan dan resistensi fases (colok dubur)
2.    Analisa gas darah apabila didapatkan tanda-tanda gangguan keseimbangan asam basa (pernapasan kusmaul)
3.    Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal
4.    Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Pospat

Masalah yang lazim muncul
1.    Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran alveolar-kapiler
2.    Diare b.d proses infeksi, infllamasi diusus
3.    Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif
4.    Kerusakan integritas kulit b.d ekskresi/BAB sering
5.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan intake makanan
6.    Resiko syok (hipovolemi) b.d kehilangan cairan dan elektrolit
7.    Ansiestas b.d perubahan status kesehatan

Discharge planning
1.    Ajarkan pada orang tua mengenai perawatan anak, pemberian makanan dan minuman (misalnya oralit).
2.    Ajarkan mengenai tanda tanda dehidrasi (ubun-ubun dan mata cekung, turgor kulit tidak elastis, membran mukosa kering) dan segera dibawa kedokter
3.    Jelaskan obat obatan yang diberikan, efeksamping dan kegunaannya
4.    Asupan nutrisi harus diteruskan untuk mencegah atau meminimalkan gangguan gizi yang terjadi
5.    Banyak minum air
6.    Hindari konsumsi minuman bersoda/minuman ringan yang banyak mengandung glukosa karena glukosa/gula dapat menyebabkan air terserap keusus sehingga memperberat kondisi diare
7.    Biasakan cuci tangan seluruh bagian dengan sabun dan air tiap kali sesudah buang air besar atau kecil dan sebelum menyiapkan makanan untuk mencegah penularan diare
8.    Hindari produk susu dan makanan berlemak, tinggi serat atau senangat manis hingga gejala diare membaik

DEMAM BERDARAH DENGUE




Definisi
Demam dengue/DF dan demaam berdarahhh dengue/DBD adalah sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot/ nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan ditesis hemoragik. Sindrom renjatan dengue adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan atau syok.(sudoyo aru,dkk 2009)

Etiologi
Virus dengue, termasuk genus flavivirus, keluarga flaviridae. Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Keempatnya ditemukan diindonesia dengaan DEN-3 serotype terbanyak. Seseorang yang tinggal didaerah endemis dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di indonesia.(sudoyo aru,dkk 2009)

Manifestasi klinis

1.Demam dengue
Merupakan penyakit demam yang akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut:

-Nyeri kepala

-Nyeri retro-orbital

-Mialgia/artalgia

-Ruam kulit

-Manifestasi pendarahan(petekie atau uji bendung positif)

-Leukopenia

-Pemeriksaan serologi fengue positif : atau ditemukan DB/DBD yang sudah dikonfirmasikan pada lokasi dan waktu yang sama

2.Demam berdarah dengue
Berdaaaasarrrkan rumus kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakkan akan bila semua hal di bawah ini dipenuhi:

a.Demam atau riwayat demam akut antara 2-7 hari, biasanya bersifat bifasik.

b.Manifestasi klinis perdarahan yang biasanya berupa ?
-Uji tourniquet positif
-Petekie, ekimosis, atau purpura
-Hematemesis atau melena
-Perdarahan mukosa

c.Trombositopenia <100.00/ul

d.Kebocoran plasma yang ditandai dengan:
-Peningkatan nilai hematrokrit >20% dari nilai baku sesuai umur dan sejenis kelamin
-penurunan nilai hematrokrit >20% setelah pemberian cairan yang adekuat

e.Tanda kebocoran pladma seperti: hipoproteinemi, asistes, efusi pleura

3.Sindrom syok dengue
Seluruh kriteria DBD diatas dengan tanda kegagalan sirkulasi yaitu:

a.Penurunan kesadaran, kegelisahan

b.Nadi cepat, lemah

c.Tekanan darah turun <20mmHg

d.Hipotensi

e.perfusi perifer menurun

f.Kulit dingin-lembab





Pemeriksaan penunjang

1.Trombositopieni (100.00/mm3)

2.Hb dan PCV meningkat (20%)

3.Leukopeni (mungkin normal atau lekositosis)

4.Isolasi virus

5.Serologi (uji H): respon antibody sekunder

6.Pada renjatan yang berat, periksa: Hb, PCV berulang kali (setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukan tanda perbaikan), faal hemostasis, FDP, EKG, foto dada, BUN, creatinin serum






Masalah yang lazim muncul

1.ketidakefektifan pola nafas b.d jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan, nyeri, hipoventilasi

2.Hipertemia b.d proses infeksi virus dengue

3.Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d kebocoran plasma darah

4.Nyeri akut b.d agen cidera biologis

5.Kekurangan volume cairan b.d pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravakuler

6.Resiko syok (hypovolemik) b.d perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskule ke ekstravaskuler

7.Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun

8.Resiko perdarahan b.d penurunan faktor-faktor pembekuan darah



Discharge planning

1.Minum yang cukup, diselingi minuman sari buah”an (tidak harus jus jambu) dan ukur jumlah cairan yang keluar dan yang diminum.

2.Upayakan untuk makan dan istirahat yang cukup.

3.Untuk perlindungan gunakanlah obat anti nyamuk yang mengandung DEET saat  mengunjungi  tempat endemik dengue.

4.Cegah perkembangbiakan nyamuk dan kenali tanda dan gejalanya.

5.Buang sampah pada tempatnya dan perbaiki tempat penyimpanan air untuk mencegah nyamuk berkembang biak dengan menutupi tempat penampungan air.

6.Pada pasien DBD tidak boleh diberikan adetosal, aspirin, anti inflamasi nonsteroid karena potensial mendorong terjadinya pendarahan.

7.Melakukan abasitas tempat tempat yang menampung air untuk mencegah berkembangbiaknya nyamuk.Untuk abate yang ditaburkan kedalam bak tendon air, satu sendok makan abate untuk bak ukuran 1m x 1m x 1m atau 10mg dalam 100 liter air. Jangan dikuras 1bulan karena obat ini melapisi dinding bak air sehingga kalau ada jentik, jentik akan mati.


DIABETES MELLITUS



Definisi

Diabetes mellitus adalah gangguan metabiolisme yang ditandai dengan hiperglikemi yang berhubungan dengan abnormalis metabolism karbohirdat, lemak, dan protein yang disebabka oleh penurunan sereksi insulin atau penurunan sensitivitas insulin atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskular, makrovaskular, dan neuropati.(Yulina elin, 2009)

Klasifikasi diabetes mellitus

1.Klasifikasi klinis :
a.DM
-Tipe I :IDDM
Disebebkan oleh destruksi sel beta pulau languerhans akibat proses autoimun.
-Tipe II : NIDDM
Disebabkan karena adanya kegagalan relative sel beta dan resistensi insulin. Resistansi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk meangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati :
>Tipe II dengan obesitas
>Tipe II tanpa obesitas
b.Gangguan toleransi glukosa.
c.Diabetes kehamilan.

2.Klasifikasi resiko statistic :
a.Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa.
b.Berpotensi menderita kelainan glukosa.

Etiologi

1.DM tipe I
Diabetes yang tergantung pada pada insulin ditandai dengan penghancuran sel-sel beta pancreas yang disebabkan oleh :
-Faktor genetick penderita yang tidak mewarisi diabetes tipe itu sendiri, tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I.
-Faktor imunologi (autoimun)
-Faktor lingkuuungan seeeekitar : virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan estruksi si beta.

2.DM tipe II
Disebabkan oleh kegagalan relative sel beta dan resistensi insulin. Factor resiko yang behubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe II : usia, obesitas, riwayat dan keluarga. Hasil pemeriksaan darah 2jam pasca pembedahan dibagi menjadi 3 yaitu :
1.    <140mg/dL – normal
2.    140-<200mg/dL – toleransi glukosa terganggu
3.    >200mg/dL – diabetes

Manifestasi klinis
Manifestasi klinis DM dikaitkan dengan adanya konkuensi metabolic defensiensi insulin (price & Wilson)
1.    Kadar glukosa puasa tidak normal
2.    Hiperglikemia berat berakibat glukosuria yang akan menjadi dieresis osmotic yang meningkatkan pengeluaran urine (polyuria) dan timbul rasa haus (polydipsia)
3.    Rasa lapar yang semakin besar (polifagia), BB berkurang
4.    Lelah dan mengantuk
5.    Gejala lain yang harus diperhatikan dan dikeluhkan adalah kesemutan, gatal, mata kabur, impotensi, peruritas vulva

Kriteria diagnosis DM : (sudoyo aru, dkk 2009)
1.    Gejala yang klasik DM+glukosa plasma swaktu >200mg/dL (11,1mmol/L)
2.    Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu
3.    Gejala klassssik DM+glukosa plassssma >126mg/dL (7,0mm0/L) puasa diartikan pasien tidak mendapatkan kalori tambahan sedikitnya 8jam
4.    Glukosa plasma 2jam pada TTGO > 200mg/dL (11.1mmo/L) TTGO dilakukan secara dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa setara dengan 75gram glukosa anhidrus dilarutkan kedalam air

Cara pelaksanaan TTGO (WHO 1994) : (Sudoyo Aru, dkk2009)
1.    3 hari sebelum pelaksanaan pemeriksaan tetap makan seperti biasa (dengan karbohidrat yang cukup)
2.    Berpuasa paling cukup 8jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan
3.    Diperiksa kosentrasi glukosa darah puasa
4.    Diberikan glukosa 75gram (orang dewasa) atau 1,75gram/kgBB (anak-anak), dilarutkan dalam air panas 250mL dan minum dalam waktu 5 menit
5.    Berpuasa kembali sampai pengambilan sempel darah untuk pemeriksaan 2jam setelah eminum larutan glukosa selesai
6.    Periksa glukosa darah 2jam sesudah beban glukosa
7.    Selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok

Pemeriksaan penunjang

1.    Kadar glukosa darah
Tabel : kadar glukosa darah waktu dan puasa dengan metode enzimatik sebagai patokan penyaring

2.    Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2kali pemeriksaan
-    Glukosa plasma sewaktu >200mg/dl (11,1 mmol/L)
-    Glukosa plasma puasa >140mg/dl (7,8mm0l/L)
-    Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2jam kemudiian sesudah mengkonsumsi 75gram karbohidrat (2jam post prandial(pp) >200mg/dll)

3.    Tes laboratorium DM
wow Jenis tes ini padaaa passsien yang mengalami DM dapat saja berupa tes saring, tes diagnostik, tes pemantauan terapi dan untuk mendeteksi komplikasi.

4.    Tes saring
Tes saring pada DM adalah :
-    GDP, GDS
-    Tes glukosa urin:
•    Tes konvensional (metode reduksi/Benedict)
•    Tes carik celup (metode oxidase/hexokonase)

5.    Tes diagnostik
Tes diagnostik pada DM adalah: GDP, GDS, GD2PP (Glukosa Darah 2jam Post Prandial), Glukosa jam ke 2 TTGO

6.    Tes monitoring terapi DM adalah:
-    GDP: plasma vena, darah kapiler
-    GD2 PP: plasma vena
-    A1c: darah vena, darah kapiler

7.    Tes untuk mendeteksi komplikasi
Tes-tes untuk mendeteksi komplikasi adalah:
-    Mikroalbuminuria: urin
-    Ureum, kreatinin, asam urat
-    Kolesterol total: plasma vena (puasa)
-    Kolesterol LDL: plasma vena (puasa)
-    Kolesterol HDL: plasma vena (puasa)
-    Trigliseria: plasma vena (puasa)

Penatalaksanaan

Insulin pada DM tipe 2 diperlukan pada keadaan:
1.    Penurunan berat badan yang cepat
2.    Hiperglikemia berat yang disertakan ketosis
3.    Ketoasidosis diabetik (KAD) atau hiperglimia hiperosmolar non ketotik (HONK)
4.    Hiperglikimia dengan asidosis laktak
5.    Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal
6.    Stres berat(infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke)
7.    Kehamilan dengan DM/diabetes melitus getasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makanan
8.    Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
9.    Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO

Masalah yang lazim muncul

1.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan keseimbangan insulin, makanan dan aktivitas jasmani
2.    Resiko syok b.d ketidakmampuan elektrolit kedalam sel tubuh, hipovolemia
3.    Kerusakan integritas jaringan b.d nekrosis kerusakan jaringan (nekrosis luka gangrene)
4.    Resiko infeksi b.d trauma pada jaringan, proses penyakit (diabetes melitus)
5.    Retensi urine b.d inkomplit pengosongan kandung kemih, sfinger kuat dan poliuri
6.    Ketidakefektifan perfusi jaringan kapiler b.d penurunan sirkulasi darah keperifer, proses penyakit (DM)
7.    Resiko ketidakseimbangan elektrolit b.d gejala poliuria dan dehidrasi
8.    Keletihan

Discharge planning

1.    Lakukan olahraga secara rutin dan pertahankan BB dengan ideal
2.    Kurangi makanan yang mengandung gula dan karbohidrat
3.    Jangan mengurangi jadwal makan atau menunda waktu makan karena hal ini akan menyebabkan fluktuasi (ketidak stabilan) kadar gula
4.    Pelajari pencegah infeksi: keberihan kaki, hindari perlukaan
5.    Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung serat, seperti sayuran dan sereal
6.    Hindari konsumsi makanan yang megandung tinggi lemak dan yang mengandung banyak kolestrol LDL, antara lain: daging merah, produk susu, kuning telur, mentega, saus salad, dan makanan pencuci mulut berlemak dan lain-lain
7.    Hindari minuman yang berakohol dan kurangi konsumsi garam.



PENYAKIT DAN KEADAAN LAIN DENGAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK


Ciri spesifik dari anak ialah ia slalu berubah baik jasmani dan fungsinya.
Sejak lahir terdapat 4 masa pertumbuhan, yaitu:

1.    Pertumbuhan yang berjalan cepat sekali dalam tahun pertama, yang kemudian mengurang secara berangsur-angsur sampai umur kira-kira 4 tahun.
2.    Pertumbuhan yang berjalan lambat dan teratur sampai akil balik.
3.    Pertumbuhan yang akan sangat cepat pada masa akil balik.
4.    Pertumbuhan yang akan kembali lagi mengurang secara berangsur-angsur sehingga pada suatu waktu berhenti.

Beberapa contoh faktor lingkungan yang dapat menyebabkan kelainan ialah:
1.    Obat-obatan.
2.    Penyakit.
3.    Makanan.
4.    Radiasi dan trauma mekanik.

Selama 5 tahun (1962-1967) di RSCM Jakarta telah ditemukan 86 kasus kelainan bawaan dari 15018rb bayi (0,57%). 3 jenis kelainan bawaan yang terbanyak ialah hidrosefalus (34,6%), anensefalus (18,6%), palatognatolabioskizis (17,3%).
Di negeri yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, terdapat 2 faktor yaitu gizi dan infeksi, yang mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap pertumbuhan anak.
Menurut World Deficit Pamphlet (Foreign Agricultural Service, U.S. Department of Agriculture, March 1961) terdapat kekurangan produksi susu di sluruh dunia sebesar 1,8juta Ton setiap tahun.
Kekurangan ini setiap tahun bertambah, karena jumlah penduduk relatif bertambah lebih cepat daripada produksi makanan. Dari hasil pengolahan tanah sudah sukar diharapkan tambah protein, sehingga perhatian dialihkan kepada laut yang kaya akan ikan, yang setelah diolah ( deffated, deodorized) dapat menghasilkan tepung ikan atau Fish Protein Concentrate (FPC) yang mengandung 80% protein kualitas tertinggi. Penyelidikan di Jakarta (1966) menunjukan bahwa FPC dapat diterima oleh anak Indonesia baik didalam maupun di rumah sakit. Dengan menu yang lebih murah, mudah, dan sederhana ternyata didapatkan penambahan berat badan lebih dari pada yang diharapkan. Oleh karena itu dianjurkan agar pemberian FPC  dimulai pada waktu produksi ASI mulai berkurang (umur bayi 5-7 bulan) untuk mencegah mendatarnya kurve pertumbuhan bayi dan anak persekolah.


Faktor penghambat pertumbuhan yang kedua ialah infeksi. Dibangsal Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta ,selama tahun 1967 telah di rawat 4.033 kasus dengan penyakit terbanyak Gastroenteritis ,kemudian menyusul defisiensi gizi ,bronkopneumonia ,tetanus dan kejang. Angka kejadian yang tinggi dari Gastroenteritis ,defisiensi gizi ,tetanus dan kejang terdapat dalam golongan umur 0-1 tahun. Kematian tertinggi terdapat pada tetanus neonatorum ,kemudian defisiensi gizi ,gastroenteritis ,dehidrasi ,kejang dan bronkopneumonia. Dengan demikian jelaslah bahwa penyakit infeksi ,gizi ,alat pencernaan dan alat pernafasan merupakan penyebab utama kematian bayi sehingga wajib perhatian yang penuh.
Kematian bayi dan anak pra sekolah di Indonesia masih cukup tinggi ,terutama bila di bandingkan dengan negara yang maju. Dahulu angka kematian merupakan ukuran derajat kesehatan suatu negara ,tetapi sekarang karena mortalitas dapat di awasi dan dipengaruhi oleh para dokter dengan pengobatan yang mutakhir ,maka angka penyakit atau morbilitas mempunyai peranan yang lebih penting.
Untuk meningkatkan kesehatan ,dalam bulan oktober 1969 di Jakarta telah dilangsungkan konferensi

DEMAM TIFOID

 

 
 
Definisi
Merupakan suatu penyakit infeksi sistematik bersifat akut yang disebabkan oleh salmonella typhi. Penyakit ini ditandai oleh panas berkepanjangan, ditopang dengan bakteremia tanpa keterlibatan struktur endothelia atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multipungsi kedalam sel fagosit monocular dari hati, limpa, kelenjar limfe usus dan peyer's patch dan dapat menular pada orang lain melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.(sumarmo,2002)

Etiologi
Salmonella typhi sama dengan salmonela yang lain adalah bakteri gram-negatif, mempunyai flagella, tidak kapsul, tidak membentuk spora, fakultatif anaerob. Mempunyai antigen somatic (o) yang terdiridari oligoskarida, flagelar antigen (H) yang terdiri dari protein dan envelope antigen (K) yang terdiri dari polisakarida. Mempunyai makromolekular lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding sel dan dinamakan endotoksin.

Manifestasi klinis
1.Gejala pada anak: inkubasi 5-40 hari dengan rata rata 10-14 hari.
2.Demam meninggi sampai akhir minggu pertama.
3.Demmam panas hanya dapat turun pada waktu hari, mingguu ke empaat, kecuali dengan demam tidak tertangani akan menyebabkan syok, stupor dan koma.
4.Ruam muncul pada hari ke 7-10 dan bertahan selama 2-3 hari.
5.Nyeri kepala, nyeri perut.
6.Kembung, mual, muntah, diare, konstipasi.
7.Pusing, bradikardi, nyeri otot.
8.Batuk.
9.Epistaksis.
10.Lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepid an ujung merah serta tremor).
11.Hepatomegali, splenomegali, meteroismus.
12.Gangguan mental berupa samnolen.
13.Delirium atau psikosis.
14.Dapat timbul dengan adanya gejala gejala yang tidak tipikal terutama pada bayi muda sebagai penyakit demam akut dengan disetai syok dan hipotermia.

Pemeriksaan penunjang
1.pemeriksaan darah perifer lengkap
Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal.
2.Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh.
3.Pemeriksaan uji widal
Uji widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri salmonella typhi.Akibat adanya infeksi oleh salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin).
4.Kultur
Kultur darah: bisa positif pada minggu pertama
Kuktur urin: bisa positif pada akhir minggu kedua
Kultur feses: bisa positif dari minggu kedua hingga minggu ketiga
5.Anti salmonela typhi lgM
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi secara dini infeksi akut salmonella typhi,karena antibodi lgM muncul pada hari ke 3 dan 4 terjadinya demam.
 
 

Penatalaksanaan
  • 1.Non farmakologi
-Bed rest
-Diet: diberikan bubur saring kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien.
  • 2.Farmakologi
-Kloramfenikol, dosis 50mg/kgBB/hari terbagi dalam 3-4 kali pemberian, oral.
-Bila ada kontraindikasi kloramfenikol diberikan ampisilin dengan dosis 200mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali. Pemberian, intravena saat belum minum obat, selama 21 hari, atau amoksilin dengan dosis 100mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali. Pemberian, oral/intravena selama 21 hari kotrimoksasol dengan dosis (tmp) 8mg/kbBB/hari terbagi dalam 2-3 kali pemberian, oral, selama 14 hari.
-Pada kasus berat, dapat juga diberikan seftriakson dengan dosis rata rata 50mg/kgBB/kali dan diberikan 2kali sehari atau 80mg/kgBB/hari, sekali sehari, intravena, selama 5-7hari.
-Pada kasus yang diduga mengalami MDR, maka pilihan atibiotika adalah meropenem, azithromisin dan fluoroquuinolon.
 
 

Masalah yang lazim muncul
1.Ketidakefektifan termoregulasi b.d fluktuasi suhu lingkungan, proses penyakit.
2.Nyeri akut b.d proses peradangan.
3.Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
4.Resiko kekurangan volume cairan b.d intake yang tidak adekuat dan peningkatan suhu tubuh.
5.Konstipasi b.d penurunan motilitas traktur gastrointestinal (penurunan mobilitas usus).

Discharge planning
1.Hindari tempat yang tidak sehat.
2.Hindari tempat daerah endemis demam tifoid.
3.Cucilah tangan dengan sabun dan air bersih.
4.Makanlah makanan bernutrisi lengkap dan seimbang dan masak/panaskan smpai suhu 570C beberapa menit secara merata.
5.Salmonellatyphio didlam air akan mati apabila dipanasi aetinggi 570C untuk beberapa menit atau dengan proses iodinasi/klorinasi.
6.Gunakan air yang sudah direbus untuk minum dan sikat gigi.
7.mintalah minuman tanpa es kecuali air es sudah didihkan atau dari botol.
8.Lalat perlu dicegah menghinggapi makanan dn minuman.
9.Istirahat yang cukup dan lkukan olahraga secara teratur.
10.Jelaskan terapi yang diberikan: dosis, dan efeksamping.
11.Ketahuilah gejala gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi gejala tersebut.
12.Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai wqktu yang ditentukan.
13.Vaksin demam tiroid.
14.Buang sampah pada tempatnya.

CHIKUNGUNYA




Definisi
Chikungunya berasal dari bahasa swahili yang berarti terikat, yang dalam hal ini berkaitan dengan kejang urat yang merupakan suatu tanda atralgia.Dan merupakan penyakit infeksi virus dangue seperti demam mendadak, atralgia, ruam makulopapular dan leucopenia.(sumarmo, 2002)

Gejala demam mendadak pada penyakit ini dapat mencapai 39 derajat celcius, nyeri terdapat pada persendian terutama sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang yang disertai ruam pada kulitTerdapat juga sakit kepala dan fotofobia.

Etiologi
Chikungunya disebabkan adanya infeksi virus chikungunya(CHIKV), yaitu jenis Alphavirus yang termasuk dalam keluarga Togaviridae, dan ditularkan atau disebarkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypty, nyamuk yang sama yang menularkan penyakit demam berdarah dengue.(sumarmo, 2002)

Manifestasi klinis
Demam chikungunya memiliki gejala dan keluhan yang mirip dengan demam dengue namun lebih ringan dan jarang menimbulkan pendarahan.Adapun tanda dan gejala demam chikungunya adalah:
  1. Demam yang timbul mendadak mencapai 39 derajat celcius selama 1-6 hari, disertai mata akan nampak nyata.Serta dapat pula disertai anoreksia, gejala flu, mual dan muntah.
  2. Nyeri pada persendian, terutama sendi lutut, pegelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang.
  3. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan  kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila bejalan.
  4. Ruam kemerahan pada kulit(Setelah 3-5hari).
  5. Pembesaran kelenjar getah bening.
  6. Jarang menyebabkan pendarahan hebat, renjatan maupun kematian.
  7. Pada bayi: demam mendadak dengan diikuti kulit merah, kejang demam dapat terjadi, setlah 3-5 hari demam, timbul ruam makulopapular minimal dan limfadenopati, injeksi konjugtiva, pembengkakankelopak mata, faringitis da gejala-gela serta tanda dari penyakit traktus respiratoius bagian atas umum terjadi, tidak ada enantema.


Pemerikasaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
1.Isolasi Virus(paling akurat)
  • 2-5 ml darah dalam minggu I pejalanan penyakit.
  • Virus CHIK(efek sitopatik) dikonfirmasikan dengan antiserum CHIK spesifik.
  • Hasil didapat dalam 1-2minggu.
2.Pemeriksaan Serologi
  • 10-15 ml darah pada fase akut(segera setelah onset klinik terjadi) dan padafase.
  • penyembuhan(10-14hari) setelah sampel I diambil.
  • Pemeriksaan IgM dilanjutkan MAC-ELISA, hasil dalam 2-3hari.
  • Reaksi silang sering terjadi, konversi dengan uji neutalisasi dan HIA.
  • Diagnosa(+):
  • Peningkatan antibody 4x pada fase penyembuhan
  • Antibody IgM spesifik CHIKV(+)
3.Polymerase Chain Reaction(PCR)
  • Melalui enzim reserve transcriptase=tes RT-PCR
  • Specimen sama dengan untuk isolasi virus
  • Hasil didapat dalam 1-2hari
Penatalaksanaan
Sehingga kini masih tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit ini dan vaksin yang berguna sebagai tindakan prevensif juga belum ditemukan.Pengobatan hanya bersifat simptomatis dan suportif seperti pemberian analgesik, antipiretik, serta antiinflamasi.(sudeep AB)

Pemberian aspirin kepada penderita demam chikungunya ini tidak dianjurkan karena dikuartikan efek aspirin terhadap platelet.(abraham AS)

Penularan wabah chikungunya yang semakin berkembang membuat para peneliti berminat mengembangkan agen antivirus baru, RNAi, yang bertindak mencegah infeksi yang ditimbulkan virus dengan mengganggu post transcriptional expression mRNA(sudeep AB)



Masalah yang lazim muncul
  1. Hipertemia b.d proses infeksi virus(penyakit), ditandai dengan suhu tubuh meningkat(<37,derajat celcius), kulit tampak kemerahan, kulit terasa panas.
  2. nyeri akut b.d agen cedera biologis ditandai dengan: klien melaporkan nyeri secara verbal.
  3. Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kendali otot ditandai dengan keterbatasan pergerakan sendi.
  4. Resiko infeksi b.d imunitas adekuat, proses pemajaman terhadap pathogen.
  5. Resiko kerusakan integritas kulit b.d perubahan pigmentasi kulit(kemerahan pada kulit).
  6. Resiko gangguan fungsi hati b.d nekrosis sel hati(penuruan fungsi hati, limfadenopati).
  7. Ansietas b.d perubahan dalam status kesehatan ditandai degan gelisah, takut, khawatir.
Discharge planning
  1. Menguras bak mandi, paling tidak seminggu sekali
  2. Meutupi tempat peyimpanan ai dan pemberian abate
  3. Mengubur sampah
  4. Menaburkan larvasida
  5. Memelihara ikan pemakan jentik
  6. Pengasapan
  7. Menggunakan pakaian, celana panjang dan mengoleskan repellant pada kulit
  8. Pemasangan kawat kasa dirumah
  9. Vaksinasi chikungunya

ELEMINASI BAK





DEFINISI
GANGGUAN ELEMINASI URINE 
Gangguan eliminasi ini terhadap urin adalah merupakan yang sangatt tidak keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi eliminasi urine.  
Biasanya orang yang mengalami gangguan eliminasi urin akan dilakukan kateterisasi urine, yaitu tindakan memasukan selang kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra dengan tujuan mengeluarkan urine.
 
Masalah-masalah dalam eliminasi urin

  • a.Reteeensi, yaitu adanya penumpukan atau gumpalan urine yang terdapat didalam kandung kemih danketidak sanggupan kandung kemih untuk mengosongkan diri. 

  • b.Inkontinensi urine, yaitu ketidaksanggupan sementara atau permanen otot sfingter eksterna untuk mengontrol keluarnya urine dari kandung kemih.

  • c.Enueeresis, Sering terjadi terhadap pada anak-anak, umumnya terjadi pada malam hari (nocturnal enuresis), dapat terjadi satu kali atau lebih dalamsemalam.

  • d.Urgency, adalah perasaan seseorang untuk berkemih.

  • e.Dysuria, adanya rasa sakit atau kesulitan dalam berkemih

  • f.Polyuria, Produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal,seperti 2.500 ml/hari, tanpa adanya peningkatan intake cairan.

  • g.Urinari suppresi, adalah berhenti mendadak produksi urine

 

Etiologi
a.Intake cairan Jumlah dan type makanan
b.Aktivitas
c.Obstruksi
d.Infeksi
e.Kehamilan
f. Penyakit; pembesaran kelenjar ptostat
g.Trauma sumsum tulang belakang
h.Operasi pada daerah abdomen bawah, pelviks, kandung kemih,urethra.
i. Umur  
j. Penggunaan obat-obatan

Faktor predisposisi/Faktor pencetus
1.Respon keinginan awal untuk berkemih
2.Gaya hidup
3.Stress psikologi
4.Tingkat perkembangan
5.Kondisi Patologis
6.Obat-obatan

Tanda dan gejala
Retensi Urin
1). Ketidak nyamanan daerah pubis.
2). Distensi dan ketidaksanggupan untuk berkemih.
3). Urine yang keluar merupakan penyakit yang sangat tidak baik dengan adanya intake tidak  seimbang.
4). Meningkatnya keinginan berkemih dan resah
5). Ketidaksanggupan untuk berkemih

Inkontinensia urin
1). pasien atau orang yang mengalami penyakit ini tidak dapat menahan diri atau keinginan BAK sebelum sampai di WC
2). pasien sering mengompol


Pemeriksaan Penunjang
1.Pemeriksaan USG
2.Pemeriksaan foto rontgen
3.Pemeriksaan laboratorium urin dan feses

Pengkajian

  • 1.Riwayat keperawatan eliminasi

Pengkajiannya meliputi:
a.Pola eliminasi
b.Gambaran urin dan perubahan yang terjadi
c.Masalah eliminasi
d.Faktor-faktor yang mempengaruhi pencernaan urine seperti : penggunaan alat bantu,diet, cairan, aktivitas dan latihan, medikasi dan stress.

  • 2.Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik abdomen terkait dengan eliminasi urine meliputi inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi

Diagnosa Keperawatan
1.Perubahan dalam mengatasi saluran eliminasi urine berhubungan dengan retensi urine,inkontinensi dan enuresis
2.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya inkontinensi urine
3.Perubahan dalam berkaitan dengannya rasa nyaman ketika berhubungan dengan dysuria, nyeri saat mengejan
4.Resiko terkena infeksi berhubungan dengan retensi urine, pemasangan kateter 
5.Perubahan konsep diri berhubungan dengan inkontinensi
6.Self care defisit : toileting jika klien ingin inkontinesi
7.Potensial defisit volume cairan yang akan langsung berhubungan dengan gangguan fungsisaluran urinary akibat proses penyakit

PERENCANAAN
Tujuan :

  • Memahami eliminasi urin nomal

  • Meningkatkan pengeluaran urin yang normal

  • Mencapai pengosongan kandung kemih yg lengkap

  • Mencegah infeksi

  • Mempertahankan integritas kulit

  • Mendapatkan ras aman 



Intervensi

  • Peningkatan kesehatan untuk memelihara atau menjaga pola makan yang seimbang, serta melindungi fungsi sistem kemih 

  • Penyuluhan klien

  • Meningkatkan perkemihan normal

  • Menstimulasi reflek berkemih :

  • Mempertahankan kebiasaan eliminasi

  • Mempertahankan asupan cairan yg adekuat 

  • Meningkatkan pengosongan kandung kemih scr lengkap.

  • Pencegahan infeksi

  • Pemeliharaan pirenium yg baik


PERAWATAN AKUT
Kateterisasi

  • Memasukkan selang plastik aau karet mll uretra ke kandung kemih.

  • Meredakan rasa tidak nyaman di bagian yang akibat distensi kandung kemih

  • Mengambil spesimen urin steril

  • Mengkaji residu urin setelh pengosongan kandung kemih

  • Penatalaksanaan jangka panjang klien yg mengalami cidera medula spinalis


 Perawatan restorasi

  • Menguatkan otot panggul

  • Meningkatkan kontraksi otot dasar panggul.

  • Mempertahankan integritas kulit

  • Cuci kulit yg teriritasi urin dgn sabun dan air hangat atau bisa juga dengan membunuh bakteri menggunakan air garam

  • Pakai pelembab

  • Bladder training

  • Melatih kembali kandung kemih untuk mengembalikan pola normal perkemihan  



EVALUASI

  • Klien mampu berkemih secara normal dan lancar ketika meminta bantuan atau tanpa meminta bantuan atau mengalami gejala-gejala gangguan perkemihan

  • Karakteristik urin : kekuningan, jernih, tidak mengandung unsur yg abnormal

  • Mampu mengidentifikasi faktor-faktor yg mempengaruhi eliminasi

  • Tidak terjadi komplikasi akibat perubahan pola eliminasi